Tips dan Edukasi

Mengapa Tuhan Satu Tapi Manusia Mengenal Banyak Tuhan?

×

Mengapa Tuhan Satu Tapi Manusia Mengenal Banyak Tuhan?

Sebarkan artikel ini

Pertanyaan tentang Tuhan adalah salah satu pertanyaan tertua dalam sejarah manusia.

Jika Tuhan memang hanya satu, mengapa di dunia ini ada begitu banyak agama, kitab, dan nama-nama Tuhan yang berbeda?
Apakah itu berarti ada banyak Tuhan, atau hanya banyak cara manusia memahami yang satu?

1. Tuhan Mungkin Satu, Tapi Manusia Melihatnya dari Banyak Jendela

Bayangkan satu cahaya yang menembus kaca warna-warni. Dari luar, tampak beraneka warna, tapi sumbernya tetap satu.
Begitu pula dengan Tuhan ~ satu sumber kehidupan, tapi dipahami dengan cara yang berbeda oleh setiap bangsa dan budaya.

Dalam Islam disebut Allah,
dalam Kristen disebut God,
dalam Hindu disebut Brahman,
dalam Buddha dikenal Dharmakaya,
dan dalam kepercayaan Nusantara disebut Sang Hyang Tunggal.

Nama dan jalan yang berbeda, namun tujuan akhirnya sama: mencari kebenaran dan kedamaian.

2. Agama Lahir dari Tempat dan Bahasa yang Berbeda

Setiap bangsa hidup dalam konteks sejarah dan bahasa yang berbeda.
Suku-suku kuno di Mesopotamia, Mesir, India, Tiongkok, hingga Nusantara mengalami kekuatan alam dan kehidupan dengan caranya masing-masing.
Dari pengalaman itulah lahir beragam simbol dan nama untuk menggambarkan kekuatan ilahi.

Jadi, banyaknya Tuhan yang dikenal manusia bukan karena banyak pencipta, tetapi karena banyak cara manusia memahami Sang Pencipta.

3. Dari Banyak Dewa Menuju Satu Tuhan

Sejarah spiritual manusia menunjukkan perkembangan besar ~ dari politeisme (banyak dewa) menuju monoteisme (satu Tuhan).Mengapa Tuhan Satu Tapi Manusia Mengenal Banyak Tuhan?

Contohnya:

Bangsa Mesir kuno menyembah banyak dewa, lalu mengenal Aton sebagai dewa tunggal.

Bangsa Arab pra-Islam menyembah banyak berhala, hingga datang ajaran tauhid melalui Nabi Muhammad S.A.W

Filsuf Yunani seperti Plato dan Socrates mulai berbicara tentang “The One” ~ sumber tunggal segala kebaikan.

Baca juga:
Untuk Bersama Tuhan Tidak Perlu Ruang dan Waktu ~ Renungan Spiritualitas Azis Chemoth

Artinya, semakin manusia berkembang dalam kesadaran, semakin ia mendekati pemahaman bahwa Tuhan sejatinya Esa.

4. Banyak Tuhan Karena Banyak Tafsir, Bukan Banyak Pencipta

Perbedaan agama lahir dari perbedaan tafsir terhadap kebenaran yang sama.
Semua agama mencoba menjawab pertanyaan yang sama:
Siapa Tuhan itu? Bagaimana cara mengenal-Nya?

Namun karena manusia terbatas, setiap peradaban menafsirkan sesuai bahasanya sendiri.
Ini seperti kisah orang buta yang menggambarkan gajah ~ satu memegang belalai, satu kaki, satu telinga ~ semuanya benar dari sudutnya, tapi yang mereka raba tetap gajah yang sama.

5. Tuhan Tak Pernah Berubah, Manusia yang Berbeda Sudut Pandangnya

Tuhan tidak pernah berganti atau bersaing dengan “tuhan” lain.
Yang berubah hanyalah cara manusia memahami dan menggambarkannya.
Kebenaran yang absolut tetap satu, tapi jalan menuju kebenaran bisa beragam.

Maka, tugas manusia bukan saling menuding siapa yang paling benar, melainkan menyelami kebenaran yang satu itu lewat jalan yang ia yakini.

Kesimpulan

Tuhan hanya satu, tetapi cara manusia mengenal dan menyebut-Nya berbeda-beda.
Perbedaan nama, kitab, dan keyakinan bukan tanda banyak Tuhan, tapi bukti bahwa Tuhan terlalu luas untuk dimiliki oleh satu golongan saja.

“Air mungkin dituang ke banyak bejana,
tapi sumbernya tetap satu mata air.”

Penulis: Azis Chemoth | Surya Kanta