Tips dan Edukasi

Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi: Keseimbangan Langit dan Bumi dalam Filsafat Nusantara dan Ilmu Modern

×

Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi: Keseimbangan Langit dan Bumi dalam Filsafat Nusantara dan Ilmu Modern

Sebarkan artikel ini

Pendahuluan: Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi sebagai Pasangan Abadi

Dalam setiap kebudayaan besar di dunia, selalu ada sepasang simbol yang melambangkan asal mula kehidupan. Di Nusantara, pasangan itu dikenal sebagai Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi ~ langit dan bumi yang berpasangan, saling memberi dan menerima, menjaga keseimbangan semesta.

Dalam pandangan masyarakat tradisional, keduanya bukan sekadar unsur fisik, tetapi kekuatan kosmis yang hidup. Langit (Akasa) memberi hujan, cahaya, dan kehidupan; Bumi (Pertiwi) menumbuhkan, memelihara, dan melahirkan kembali. Keduanya adalah dua sisi dari satu kesatuan ~ seperti napas dan tubuh, jiwa dan raga.

Akar Filosofis: Purusa dan Pradhana

Filsafat Hindu dan Jawa kuno mengenal konsep Purusa dan Pradhana, yang menjadi dasar pemikiran tentang Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi.

Purusa (Bapak Akasa) mewakili roh, cahaya, dan prinsip aktif.

Pradhana (Ibu Pertiwi) mewakili materi, kesuburan, dan prinsip pasif.

Dari pertemuan keduanya, lahirlah “Jagad Raya”, tempat segala makhluk hidup berkembang. Dalam lontar-lontar Bali disebutkan:

“Akasa dadi bapane, Pertiwi dadi ibune. Saha putrane jagad kabeh.”

(Langit adalah ayahnya, bumi adalah ibunya, dan semua yang ada di dunia adalah anaknya.)

Keseimbangan ini dianggap suci. Manusia yang hidup di antara langit dan bumi harus mampu meniru harmoni itu ~ menjaga hubungan baik dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta.

Makna Filosofis dalam Tradisi Jawa

Dalam tradisi kejawen, konsep ini dikenal melalui ungkapan:

“Sangkan paraning dumadi.”

Artinya, dari mana sesuatu berasal dan ke mana ia akan kembali.

Bapak Akasa melambangkan asal mula ~ roh, cahaya, kesadaran. Ibu Pertiwi melambangkan tujuan akhir ~ jasad, tanah, ketenangan. Manusia hidup di antara keduanya, menjadi jembatan yang menghubungkan dunia atas dan dunia bawah.

Sebagaimana diungkap dalam Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV:

“Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani.”

Pengetahuan sejati lahir dari laku, bukan hanya kata; dan laku itu menuntun manusia memahami keseimbangan antara langit dan bumi.

Baca juga:
Laptop 5–8 Juta Terbaik untuk Mahasiswa 2025

Dalam konteks ini, Bapak Akasa bukan sekadar langit fisik, melainkan simbol akal dan kesadaran, sementara Ibu Pertiwi adalah simbol raga dan tindakan nyata.

Manusia yang hanya berpikir tanpa membumi akan kehilangan arah; sementara yang hanya mencari materi tanpa nurani akan kehilangan cahaya.

Dimensi Spiritualitas Nusantara

Berbagai masyarakat adat di Indonesia memiliki pandangan serupa.

Di Bali, konsep Tri Hita Karana mengajarkan tiga harmoni: antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Di Kalimantan, suku Dayak mengenal Langit (Lahatala) dan Bumi (Pambelum) sebagai asal kehidupan.

Di Papua, mitos penciptaan menyebut langit sebagai ayah yang menurunkan cahaya, dan bumi sebagai ibu yang menumbuhkan tanaman.

Semua pandangan ini memperlihatkan satu benang merah: keseimbangan kosmis. Ketika langit dan bumi tidak selaras, alam menjadi rusak, dan manusia kehilangan kesejahteraan batin.

Penafsiran Ilmiah: Langit, Bumi, dan Alam Semesta

Dalam sains modern, konsep ini dapat dibaca melalui hubungan antara planet Bumi dan kosmos di atasnya.

Atmosfer bumi terdiri dari beberapa lapisan ~ troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, dan ekzosfer ~ yang seluruhnya menjadi perantara antara manusia dan ruang angkasa.

Sementara luar angkasa (space) adalah wujud nyata dari Akasa, yakni ruang tanpa batas tempat semua benda langit bergerak.

Menurut fisika modern, ruang-waktu (space-time continuum) adalah wadah bagi seluruh energi dan materi.

Dengan demikian, Bapak Akasa dalam pandangan ilmiah dapat dipahami sebagai ruang dan energi kosmik, sedangkan Ibu Pertiwi adalah planet dan materi yang menjadi dasar kehidupan biologis.

NASA menjelaskan bahwa atmosfer bumi menahan radiasi berbahaya, mengatur suhu, dan menyediakan oksigen ~ fungsi yang sejalan dengan konsep spiritual bahwa langit “memberi perlindungan”.

Referensi: NASA Earth Science Division

Pertemuan Filsafat dan Ilmu

Ketika pandangan tradisional Nusantara disandingkan dengan kosmologi modern, keduanya ternyata saling melengkapi.

Filsafat memberi makna, sains memberi penjelasan.

Jika Akasa adalah ruang dan energi, maka dalam tubuh manusia ia termanifestasi sebagai pikiran, napas, dan kesadaran.

Baca juga:
Perkembangan Sistem Operasi Komputer: Dari DOS Hingga Windows 11

Sedangkan Pertiwi sebagai bumi termanifestasi dalam tubuh, darah, dan tindakan.

Keduanya tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa simbolik, manusia adalah mikrokosmos dari semesta (makrokosmos).

Apa yang terjadi di luar ~ dalam hubungan langit dan bumi ~ juga terjadi di dalam diri manusia: antara akal dan perasaan, antara kehendak dan tindakan.

Bapak

Kearifan Ekologis: Menjaga Harmoni Alam

Konsep Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi memiliki implikasi ekologis yang mendalam.

Dalam kepercayaan lama, merusak alam sama artinya dengan melukai ibu sendiri. Karena itu, masyarakat adat selalu menghormati tanah, air, dan udara sebagai wujud hidup.

Di Bali, sebelum menanam padi, petani melakukan upacara Mapag Toya untuk memohon restu kepada dewa air dan bumi.

Di Jawa, tradisi sedekah bumi dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Pertiwi yang memberi hasil panen.

Prinsip ini selaras dengan gerakan lingkungan modern. Lembaga dunia seperti UNESCO menegaskan pentingnya ecological balance ~ keseimbangan ekologis yang sejatinya telah lama dikenal dalam filsafat Nusantara.

Dimensi Psikologis: Langit dan Bumi dalam Diri Manusia

Selain makna kosmologis, Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi juga dapat dimaknai secara psikologis.

Langit mewakili pikiran dan cita-cita, sedangkan bumi mewakili perasaan dan kenyataan.

Manusia yang terlalu condong ke langit akan hidup dalam ilusi dan ambisi tanpa arah. Sebaliknya, yang terlalu berpijak pada bumi akan kehilangan inspirasi dan makna.

Keseimbangan antara keduanya menghasilkan kedewasaan batin ~ seperti pepatah Jawa:

“Urip iku mung mampir ngombe, nanging kudu ngerti ngendi banyu sejatine.”

(Hidup ini hanya singgah untuk minum, tetapi harus tahu di mana sumber air sejati itu.)

Air sejati itu adalah harmoni antara pikiran (langit) dan hati (bumi).

Relevansi di Era Modern

Di tengah kemajuan teknologi dan krisis lingkungan global, ajaran tentang Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi menjadi semakin relevan.

Ilmu pengetahuan modern kerap menempatkan manusia sebagai penguasa alam. Namun filsafat Nusantara mengingatkan: manusia hanyalah bagian dari sistem besar ~ anak dari langit dan bumi.

Baca juga:
Perbedaan Luka Diabetes dan Luka Biasa yang Perlu Dikenali

Keseimbangan ini bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan:

Dalam ekonomi, tidak rakus mengeksploitasi alam.

Dalam politik, berpikir tinggi namun berpijak pada realitas rakyat.

Dalam spiritualitas, menjangkau langit dengan doa, namun tetap rendah hati di bumi.

Pandangan ini bukan romantisme masa lalu, melainkan fondasi untuk masa depan yang berkelanjutan.

Keterhubungan dengan Filsafat Hidup Orang Jawa

Sebagaimana dibahas dalam artikel Filosofi Hidup Orang Jawa, inti dari kebijaksanaan Jawa adalah “tata tentreming jagad” ~ ketertiban dan ketenangan semesta.

Nilai ini sejajar dengan keseimbangan antara Akasa dan Pertiwi.

Orang Jawa percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang selaras:

Selaras dengan Tuhan (langit), sesama manusia, dan bumi tempat berpijak.

Keselarasan ini bukan pasif, melainkan hasil dari kesadaran yang terus dipelihara melalui laku, doa, dan tindakan nyata.

Penutup: Anak Langit dan Bumi

Pada akhirnya, konsep Bapak Akasa dan Ibu Pertiwi bukan hanya kisah mitologis, melainkan pelajaran filosofis dan ekologis yang mendalam.

Ia mengajarkan bahwa kehidupan adalah hasil dari penyatuan dua kekuatan: energi dan materi, kesadaran dan bentuk, langit dan bumi.

Manusia hidup di antara keduanya ~ bukan di atas, bukan di bawah.

Sebagaimana pepatah tua Bali berkata:

“Ring Akasa tan hana urip, ring Pertiwi tan hana cahaya. Sane dados urip, ring antarane.”

(Di langit tak ada kehidupan, di bumi tanpa cahaya pun tiada arti; kehidupan terjadi di antara keduanya.)

Maka menjaga keseimbangan langit dan bumi berarti menjaga diri sendiri.

Ketika manusia ingat asalnya dari Akasa dan Pertiwi, ia tidak akan sombong di bumi, dan tidak akan lupa arah ke langit.

Keduanya adalah orang tua kosmis yang melahirkan peradaban, dan selama kita menghormati mereka, semesta akan tetap lestari

Baca Juga:

Filosofi Hidup Orang Jawa

 

Penulis: Chemoth|https://Suryakanta.web.id