Ruang hanyalah batas tubuh
Ditulis oleh: Azis Chemoth | Penulis Reflektif & Penyair Eksistensial
Di berbagai belahan bumi, manusia sujud dalam waktu yang berbeda.
Ketika di Indonesia kumandang adzan Ashar terdengar, di Hawaii orang baru menunaikan Subuh.
Di Amerika, sebagian masih menutup hari dengan Isyak.
Sementara di kutub, matahari bisa bersinar berbulan-bulan tanpa terbenam.
Dan di luar angkasa, seorang astronot melihat matahari terbit dan tenggelam enam belas kali dalam satu hari.
Namun dalam seluruh perbedaan itu, ada satu kesamaan yang tidak berubah:
mereka semua memanggil nama Tuhan yang sama.
Makna Waktu dalam Sholat dan Kesadaran Ilahi
Sholat memang terikat waktu ~ Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isyak ~
tetapi hakikat kebersamaan dengan Tuhan tidak dibatasi oleh jam dan arah matahari.
Di balik setiap detik yang berlalu, ada ruang sunyi tempat hati bisa berbicara tanpa suara.
Tuhan tidak menunggu pada pukul tertentu.
Dia hadir setiap kali manusia mengingat-Nya dengan jujur.
Ruang hanyalah batas tubuh. Waktu hanyalah ukuran dunia.
Namun kesadaran akan Tuhan melampaui keduanya.
Di kutub, umat Islam menyesuaikan waktu ibadah karena matahari tak terbit atau terbenam.
Di langit, para astronot sholat mengikuti waktu bumi atau Mekkah.
Dan di bumi, kita diajak merenung:
apakah kita benar-benar hadir saat sholat,
atau hanya menunaikannya karena jam menunjukkan waktunya?

Untuk Bersama Tuhan Tidak Perlu Ruang dan Waktu
Kedekatan dengan Tuhan bukan perkara jarak dan arah.
Ia bukan diukur dari seberapa lama sujud,
tapi seberapa dalam kesadaran hadir dalam sujud itu.
Ketika hati benar-benar pasrah, dunia berhenti berputar dalam pikiran.
Tak ada “di sini” dan “di sana”.
Tak ada “pagi” dan “malam”.
Yang tersisa hanyalah rasa menyatu dengan Sang Pencipta ~
di mana ruang lenyap dan waktu berhenti bekerja.
Maka benarlah:
Untuk bersama Tuhan, tidak perlu ruang dan waktu.
Yang perlu hanyalah kesadaran dan ketulusan.
Refleksi Batin
Sholat adalah simbol keteraturan waktu,
tapi zikir adalah jembatan tanpa batas.
Siapa pun yang mengingat Tuhan dengan hati bersih,
sedang bersama-Nya ~ meski tanpa ruang dan waktu.
“Makna Doa”, “Kesadaran Ibadah”, atau “Spiritualitas di Era Digital”.
Majelis Ulama Indonesia
OIC Fatwa Portal
NASA Space Station Facts (untuk konteks sholat astronot)












