Ekonomi dan Bisnis

Membangun Industri Tembakau Indonesia yang Mandiri: Transformasi dari Ladang ke Pabrik

×

Membangun Industri Tembakau Indonesia yang Mandiri: Transformasi dari Ladang ke Pabrik

Sebarkan artikel ini

Situbondo,– Industri tembakau Indonesia selama ini dikenal sebagai sektor besar yang menghasilkan keuntungan signifikan, namun ironisnya, kesejahteraan petani tembakau tetap tertinggal. Jarak antara ladang dan pabrik tidak hanya geografis, tetapi juga struktural dan ideologis, membuat petani menjadi pihak yang selalu dirugikan.

Dalam wawancara eksklusif dengan HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, pendiri dan pemilik Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP), ia menekankan bahwa masalah utama industri tembakau bukanlah kualitas bahan baku atau permintaan pasar, melainkan sistem yang menempatkan petani sebagai objek, bukan subjek.

“Petani menanam, merawat, dan memanen tembakau, tetapi tidak pernah memiliki kendali atas harga. Tembakaunya dibeli murah, sementara rokok yang dihasilkan dijual mahal, bahkan kepada mereka sendiri,” ungkap Khalilur.

Data menunjukkan ironi sosial ini terjadi di berbagai daerah penghasil tembakau, termasuk Madura, yang meskipun memiliki luas lahan tembakau besar, masih berada di garis bawah kesejahteraan di Jawa.

Untuk mengatasi ketimpangan ini, Khalilur menekankan perlunya membangun industri dari bawah. Solusi yang ditawarkan adalah menghadirkan ribuan pabrik rokok skala UMKM di dekat ladang tembakau. Model ini diyakini akan mengubah relasi antara industri dan petani:

Petani mendapatkan harga yang lebih layak karena rantai distribusi lebih pendek dan transparan.

Produk rokok tetap terjangkau bagi konsumen, mengurangi risiko peredaran rokok ilegal.

Industri tembakau menjadi lebih merata dan mandiri, tidak hanya terkonsentrasi pada pabrik besar di kota.

Khalilur menegaskan, pendekatan ini bukanlah sekadar gagasan idealis, melainkan keharusan untuk menciptakan keadilan sosial dalam industri tembakau Indonesia.

“Industri tidak lagi terpusat; ia tersebar dan hidup di banyak titik. Petani tidak lagi menjadi pihak yang paling lemah, tetapi bagian dari kekuatan. Inilah fondasi untuk industri tembakau mandiri yang benar-benar berpihak,” tegasnya.

Baca juga:
Gus Lilur Bangun Hegemoni Tambang Bauksit, Kabantara Grup Siap Rebut Pasar Nasional dan Global

Sebagai langkah nyata, BARONG GRUP telah memulai proyek percontohan dengan membangun pabrik rokok UMKM yang legal, kuat, dan berpihak pada petani. Khalilur berharap inisiatif ini dapat direplikasi secara nasional, menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Transformasi industri tembakau ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menegaskan komitmen untuk mengembalikan keseimbangan yang telah lama hilang.

HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy menutup pernyataannya dengan tegas: “Sebuah industri tidak boleh hanya dinilai dari keuntungan, tetapi dari seberapa adil ia membagikan manfaatnya. Dan industri tembakau Indonesia harus dimulai dari ladang, dari petani, dan dari keberanian untuk membangun ulang sistem yang lebih adil.”