Kuala Lumpur – Sejarah besar sering kali lahir dari sebuah perjalanan. Tidak semua perjalanan berakhir sebagai sekadar pengalaman, tetapi ada yang menjelma menjadi gagasan besar yang mampu mengubah arah masa depan.
Sebuah perjalanan ekspedisi bisnis yang bertujuan memasarkan tembakau Nusantara sekaligus memperkenalkan produk rokok Indonesia ke kawasan Asia–Australia baru-baru ini melahirkan sebuah ide besar. Dalam perjalanan tersebut, sebuah pertemuan strategis berlangsung di Kuala Lumpur yang mempertemukan sejumlah mitra dari delapan negara yang memiliki ketertarikan terhadap industri tembakau dan rokok global.
Pertemuan itu tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan. Diskusi yang berlangsung panjang justru melahirkan kesadaran kolektif bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam peta industri rokok dunia.
Dari kesadaran tersebut lahir sebuah langkah strategis: membangun sebuah induk perusahaan yang difokuskan untuk mengonsolidasikan kekuatan industri rokok global berbasis tembakau Nusantara. Perusahaan tersebut diberi nama Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP).
Perusahaan ini didirikan oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy yang juga dikenal sebagai Gus Lilur, dengan sebuah visi besar: menjadikan tembakau Nusantara sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan industri rokok global serta membawa produk rokok Indonesia bersaing di pasar internasional.
Potensi Besar Tembakau Nusantara
Gagasan tersebut lahir dari realitas yang tidak dapat dipungkiri. Industri rokok dunia saat ini didominasi oleh sejumlah korporasi besar yang memiliki jaringan produksi dan distribusi lintas negara. Mereka mampu membangun pabrik di berbagai wilayah sekaligus memperluas pengaruhnya hingga pasar internasional.
Namun dalam diskursus industri tersebut, terdapat satu fakta mendasar yang sering terabaikan: kekuatan utama industri rokok sejatinya bertumpu pada kualitas tembakau.
Dalam hal ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan varietas tembakau terbaik di dunia.
Di berbagai wilayah Nusantara tumbuh jenis tembakau dengan karakter rasa yang khas dan telah lama diakui kualitasnya oleh pelaku industri internasional. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, berkembang tembakau yang dikenal sebagai salah satu varian Virginia Blend berkualitas tinggi. Di Pulau Madura tumbuh tembakau dengan karakter Oriental Blend yang kuat.
Sementara itu di Jember dikenal tembakau Burley Blend berkualitas tinggi yang banyak digunakan dalam industri rokok. Di Situbondo berkembang tembakau Besuki yang sejak lama memiliki reputasi cita rasa istimewa.
Di wilayah Sumatera Utara, tembakau Deli bahkan telah lama menjadi bagian penting dalam industri cerutu dunia. Sedangkan di Temanggung tumbuh tembakau Srintil yang dikenal sebagai salah satu tembakau premium paling langka. Tak kalah penting, daerah Lumajang juga menghasilkan tembakau dengan karakter rasa yang mampu bersaing dengan produk dari berbagai negara.
Dengan kekayaan tersebut, Indonesia sejatinya memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi pemain utama dalam industri rokok global.
Paradoks Petani Tembakau
Namun di balik potensi besar tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang cukup mendasar: jika tembakau Nusantara begitu istimewa, mengapa jutaan petani tembakau Indonesia selama puluhan tahun masih hidup dalam keterbatasan ekonomi?
Paradoks inilah yang mendorong lahirnya gagasan perubahan besar dalam cara pandang terhadap industri tembakau nasional. Indonesia tidak boleh selamanya hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri global. Indonesia perlu mengambil peran yang lebih besar dengan membangun industri yang memiliki nilai tambah di dalam negeri sekaligus memiliki jangkauan internasional.
Dari pemikiran tersebut lahirlah sebuah strategi yang sederhana namun berpotensi membawa dampak besar: membangun jaringan pabrik rokok di berbagai negara dengan memanfaatkan tembakau Nusantara sebagai bahan utama.
Strategi ini tidak hanya bertujuan memperluas pasar rokok Indonesia, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi tembakau nasional.
Tiga Agenda Strategis Industri Global
Untuk mewujudkan visi tersebut, BARONG GRUP merancang tiga agenda strategis sebagai bagian dari ekspedisi industri rokok global.
Agenda pertama adalah EPARSIA Pasar Rokok, yakni ekspedisi yang bertujuan memetakan sekaligus membuka akses pasar rokok di kawasan Asia dan Australia.
Agenda kedua adalah EPARSIA Pabrik Rokok, yaitu program penjajakan kerja sama pembangunan pabrik rokok di berbagai negara di kawasan tersebut.
Sementara agenda ketiga adalah EPARSIA Pabrik Rokok Indonesia–Dunia, sebuah program besar untuk membangun pabrik rokok berskala besar di Indonesia sekaligus memperluas jaringan produksi di berbagai negara.
Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan tembakau Nusantara tidak lagi sekadar dikenal sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai fondasi kebangkitan industri global yang berakar dari Indonesia.
Misi Besar untuk Petani
Namun di balik seluruh rencana tersebut, terdapat tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar ekspansi bisnis. Tujuan utama dari gagasan ini adalah meningkatkan kesejahteraan petani tembakau Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung industri tersebut.
Ketika nilai tambah industri dapat dikelola secara lebih baik di dalam negeri dan dalam jaringan industri global, maka manfaat ekonominya diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat, khususnya oleh para petani yang selama ini menjaga keberlangsungan produksi tembakau Nusantara.
Sebuah langkah besar tentu tidak pernah dimulai dengan kepastian penuh. Setiap gagasan besar selalu diawali dengan keyakinan, kerja keras, serta doa.
Dari sebuah kamar di Kuala Lumpur, sebuah harapan dipanjatkan agar setiap langkah yang direncanakan memperoleh pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.
Semoga suatu hari nanti dunia mengenal bahwa dari Nusantara pernah bangkit sebuah kekuatan industri rokok global yang mampu membawa tembakau Indonesia ke panggung internasional serta menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik bagi jutaan petani tembakau di tanah air.
Aamiin. InsyaAllah. Bismillah.
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Gus Lilur)
Founder & Owner
Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP)












